Artikel, Music Chronicle

Ketika pemerintah tidak lagi mengurus kesenian

Ketika Sukarno (d/h Soekarno) mencanangkan Manipol-Usdek (manifestasi politik, UUD 1954, sosialisme Indonesia, demokrasi terpimpin dan kepribadian Indonesia) pada 17 Agustus 1959, banyak seniman menjadi korban. Koes Bersaudara yang dinilai terlalu kebarat-baratan dan meniru gaya The Beatles dibui. Rambut gondrong dan piringan hitam impor yang berisikan musik rock ‘n roll di razia. Dansa-dansi dan pesta dansa dilarang. Kebebasan berekspresi menjadi mandul dan terselubung.

Sayangnya, ketika Suharto (dia lebih senang menulis namanya dengan Soeharto) berkuasa, seniman juga masih tetap terbelenggu. Banyak seniman pentas yang sulit mendapatkan ijin pementasan. Seorang Iwan Fals yang karyanya sarat dengan kritikan juga kena cekal di mana-mana. Bukan hanya itu, seorang menteri penerangan bernama Harmoko malah melarang pemutaran lagu “Hati Yang Luka” ciptaan Rinto Harahap yang dinyanyikan Betharia Sonata di media elektronik. Alasannya karena lagunya cengeng dan tidak mencerminkan kondisi bangsa pada saat itu. 

Sekarang sudah tidak jamannya lagi pemerintah mengurusi kesenian dan sejenisnya. Eranya sudah berbeda. Kalau di jaman Sukarno memang ada proteksi kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia. Mungkin karena masih adanya kebencian kepada sesuatu yang berbau asing akibat masa penjajahan yang cukup panjang yang dialami bangsa kita. Sedangkan di era Suharto, sang penguasa terkesan protektif dan serba mau mengatur semuanya disebabkan rasa takut yang berlebihan.

Di jaman serba global dan serba IT saat ini, sulit memproteksi kebudayaan asing untuk tidak masuk mempengaruhi kebudayaan kita. Bisa dibayangkan kalau pemerintah hari ini melarang rakyat Indonesia menonton TV atau film asing. Atau melarang peredaran musik barat. Kemudian menutup semua provider penyedia jasa internet. Yakinlah bahwa hari ini juga sang penguasa akan tumbang ditangan pendukungnya sendiri.

Seniman kini boleh berbesar hati. Boleh bebas berkarya dan berekspresi. Bahkan sampai menembus norma-norma susila pun masih termaafkan dengan alasan “seni”. Pasalnya semuanya hanya diatur oleh undang-undang dalam hal ini KUH Pidana yang intinya melarang membuat, memproduksi, menyimpan, mengumumkan, menyiarkan segala sesuatu yang menyinggung dan mencemarkan nama baik seseorang, agama, golongan dan sejenisnya (sorry, saya bukan ahli hukum, cmiiw. pen). Kalau diperkarakan di pengadilan, biasanya oleh orang yang tersinggung nama baiknya, bukan pemerintah yang langsung melarangnya. Jadi kalau tidak ada yang memperkarakan artinya mulus-mulus saja. Ingat kasus Inul? Saya heran kenapa Bang Haji Rhoma Irama tidak memperkarakannya di pengadilan tapi malah masuk ke DPR!

Mau menyinggung orang lain juga bukan suatu masalah yang besar-besar amat, yang penting orangnya gak tahu kalau dia yang disindir. Atau pura-pura tidak merasa tahu. Seperti “Bento”-nya Iwan Fals yang mulus-mulus aja, meski kita tahu siapa yang disindir tapi sulit membuktikannya di pengadilan. Ingat juga lagu “Surti Tejo”-nya Jamrud yang ada kata-kata “f**k you” di dalamnya? Toh, lagu itu tetap mulus-mulus saja meskipun  kadang saya merasa risih kalau mendengar lagu itu disenandungkan anak-anak kecil di sekitar rumah saya. Atau soal “Republik Mimpi” yang wapresnya baru saja meninggal. Ada kesan kebebasan berekspresi jadi kebablasan dan tidak bertanggung jawab.

Tapi, sekedar saran. Adalah lebih baik menjadi seorang seniman (musisi dan yang lainnya) yang bertanggung jawab dalam berkesenian. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Baik terhadap diri sendiri maupun terhadap bangsa di mana kita dan karya kita lahir. Karena saya percaya kekuatan seniman yang dapat mempengaruhi semua lapisan masyarakat penikmatnya. Apalagi kalau dia sudah menjadi idola dan publik figur. Apa saja yang diperbuatnya baik negatif atau positif seketika akan ditiru fansnya. Intinya, di tangan kita jugalah yang menentukan kelak mau dibawa kemana bangsa ini.

About toekangmoesik

♥ Player solo keyboard di Losari Beach Hotel & Restaurant Makassar ♥ MD & Production Mgr di Radio SPFM Makassar ♥ Mantan Instruktur Gitar di Yayasan Pusat Pendidikan Musik (YPPM) Mataram-NTB ♥

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

jasa pembuatan blog, hosting blog murah, jasa pembuatan radio streaming, cara membuat radio streaming murah

MUSIC POLLING

Musichat

Kategori

Arsip

%d blogger menyukai ini: