Artikel, Music News

Hiruk Pikuk Orkes Sahur…

Sebenarnya ‘orkes sahur’ atau kerennya ‘music patrol’ bukan hal yang baru. Hampir setiap Ramadhan tiba, kita pasti mendengar kiprah mereka membangunkan orang untuk bersantap sahur. Bukan hanya di kampung atau di desa saja. Di kota besar pun kelompok musik ini ada.

Kelompok musik?

Saya katakan begitu. Karena mereka memang berkelompok. Sedikitnya 3 orang, paling banyak bisa sampai 20-an orang. Mereka biasanya anak-anak muda yang suka begadang di malam-malam Ramadhan, atau mereka yang kebetulan kena giliran ronda. Sambil meneriakkan kata-kata, “sahur…sahur…sahur…!” mereka berkeliling kampung. Biasanya mulai pukul 02.00 dini hari sampai menjelang waktu imsak. Bukan hanya teriak, mereka juga memukuli kentongan, ember, panci, galon air mineral, botol, sendok, juga yang kerincingan atau ecek-ecek yang terbuat dari penutup botol, dengan ritme tertentu. Sehingga tercipta sebuah musik, katakanlah musik perkusi yang berirama dan membangkitkan semangat. Ditimpali teriakan “sahuuuuur…” yang serempak. Maka komplitlah ‘orkes sahur’ mengumandang membangunkan orang yang tengah terlelap tidur. Itu dulu… 

Lalu sekarang bagaimana?

Karena jamannya sudah berubah, ‘orkes sahur’ juga ikut berubah. Terutama di kota besar, ambil contoh di kota Makassar di mana saya tinggal. Tidak ada lagi ‘music patrol’ seperti yang digambarkan di atas. Tidak ada lagi ember, galon, botol, panci dan alat dapur lainnya. Bahkan kentongan pun sudah hilang. Sekarang yang terlihat adalah sebuah becak yang sarat dengan muatan sound systemloudspeakerbesar, aki, keyboard dan tukang keyboard. Bukan hanya itu. Ikut mengiringi sambil jalan kaki ada tukang gitar, tukang melodi, tukang bas, tukang suling, tukang ecek-ecek (tamborin), tukang gendang (tabla) serta seorang biduanita. Sambil berkeliling, mereka tidak meneriakkan “sahuuuuuur…!” lagi. Tapi menyanyikan lagu-lagu dangdut dan lagu daerah setempat. Kelompok ini biasanya mulai berkeliling selepas shalat tarawih.

Siapa yang mendanai mereka?

‘Orkes sahur’, sebagaimana adanya adalah kelompok independen yang dibentuk dan dibiayai oleh swadaya masyarakat setempat. Legalkah? Jangan tanyakan soal itu, karena baik Lurah maupun Camat tidak ada yang mengaku mengijinkan mereka. Sedangkan setiap siang, anggota kelompok ini berpencar mendatangi rumah-rumah meminta sumbangan dana sukarela. Ini yang seringkali dikeluhkan warga, terutama mereka yang merasa terusik kenyamanan istirahatnya.

Ada pro dan kontra?

Benar. Karena tidak semua warga masyarakat senang dengan kehadiran mereka. Tidak sedikit warga yang merasa mimpinya terusik. Terlebih bagi mereka yang non-muslim yang memang tidak punya kepentingan dengan bangun tengah malam. Belum lagi jika mereka melewati rumah yang punya bayi atau balita atau manula. Bayangkan jika sound system dengan loudspeaker besar itu membahanakan suara keyboard, gitar, melodi, bas, tabla dan ditimpali lengkingan suaran sang biduanita lewat di depan pintu rumah Anda yang baru saja terlelap. Bayi Anda kemudian terbangun dan menangis disusul suara ibunya yang mencoba membujuknya dengan senandung seadanya. Mertua Anda yang sudah sepuh jadi ikut terbangun dan terbatuk-batuk. Maka ramailah rumah Anda.

Selamat bersantap sahur…! 

“””foto diambil dari sini

About toekangmoesik

♥ Player solo keyboard di Losari Beach Hotel & Restaurant Makassar ♥ MD & Production Mgr di Radio SPFM Makassar ♥ Mantan Instruktur Gitar di Yayasan Pusat Pendidikan Musik (YPPM) Mataram-NTB ♥

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

jasa pembuatan blog, hosting blog murah, jasa pembuatan radio streaming, cara membuat radio streaming murah

MUSIC POLLING

Musichat

Kategori

Arsip

%d blogger menyukai ini: