Artikel, Music Chronicle

Belajar Piano atau Keyboard…?

Kemarin sore saya terima SMS dari adik yang tinggal di Jakarta. Katanya si Shalsa, kemenakan saya yang bungsu, diikutkan kursus musik. Tapi dia bingung, karena diberi pilihan, mau belajar piano atau keyboard? Lalu saya balas SMS-nya, “Piano saja, soalnya kalau sudah mahir piano otomatis bisa main keyboard.”

Apa betul?

Memang kalau dilihat sepintas antara piano dengan electone atau keyboard tidak jauh berbeda. Keduanya mengandalkan tuts atau keyboard atau papan kunci nada yang sama. Hanya saja ada beberapa perbedaan mendasar yang bisa menentukan kemahiran atau skill pemainnya.

  • Pertama, piano tidak akan berbunyi jika tidak dipukul dengan jari yang bertenaga. Itu sebabnya piano digolongkan sebagai alat musik pukul (perkusi). Bandingkan dengan keyboard yang dipencet sedikit saya sudah berbunyi. Artinya jemari tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk membunyikannya. Keuntungannya adalah bahwa dengan belajar piano, akan membentuk otot-otot jari yang lebih kuat dan terlatih. Dengan kata lain, pemain piano akan lebih mudah membunyikan tuts piano ataupun keyboard dibandingkan pemain keyboard yang akan merasa bahwa tuts piano terlalu berat dimainkan dan membuat jemarinya pegal. Saat ini juga sudah banyak keyboard yang tutsnya berat dan mengadopsi tuts piano. Istilahnya keyboard dengan “hammer key“. Analoginya seperti orang yang belajar mengetik sepuluh jari dengan mesik ketik biasa dan setelah mahir lemudian menggunakan keyboard komputer. Bukan sebaliknya.
  • Kedua, pemain piano akan memiliki kemampuan scaling jemari tangan kiri sama baiknya dengan yang kanan. Karena tangan kiri pemain piano tidak hanya memainkan block chord (not yang membentuk akord dimainkan ditekan secara bersamaan), tapi juga arpeggio chord (not-not dalam akord dimainkan bergantian). Bukan hanya itu, tangan kiri pemain piano juga diharuskan bisa memainkan scale atau titi nada sama baiknya dengan tangan kanannya. Bandingkan dengan pemain keyboard yang jemari tangan kirinya hanya bisa memainkan block chord dan hanya mengandalkan tangan kanan untuk memainkan melodi. Sehingga untuk memainkan keyboard, seorang pemain piano akan lebih mudah melakukannya dibanding pemain keyboard yang disuruh main piano!

Saya kira, kedua alasan ini bisa dijadikan alasan pembenaran kenapa lebih menguntungkan belajar piano dibandingkan dengan belajar keyboard. Apalagi untuk anak seusia Shalsa yang jemari tangannya masih lentur dan masih mudah dibentuk. 

Kesulitannya sekarang adalah banyak siswa kelas piano yang tidak memiliki alat musik tersebut di rumahnya. Soalnya harga piano yang masih tergolong mahal dibanding keyboard. Jadinya mereka kesulitan untuk berlatih di luar kelas dan hanya mengandalkan waktu kursus yang hanya 30 menit seminggu. Dan saya yakin tidak akan pernah mahir seberbakat apapun anak itu.

Saran saya, jika memang orang tuanya mampu, belilah piano. Bekas juga tidak apa, asal bilah-bilahnya (tuts) masih bagus dan belum ada yang ompong. Soal suara yang fals, mungkin bisa dipanggilkan stemmer untuk menyetem ulang. Gitu aja.

About toekangmoesik

♥ Player solo keyboard di Losari Beach Hotel & Restaurant Makassar ♥ MD & Production Mgr di Radio SPFM Makassar ♥ Mantan Instruktur Gitar di Yayasan Pusat Pendidikan Musik (YPPM) Mataram-NTB ♥

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

jasa pembuatan blog, hosting blog murah, jasa pembuatan radio streaming, cara membuat radio streaming murah

MUSIC POLLING

Musichat

Kategori

Arsip

%d blogger menyukai ini: