Artikel, Music Chronicle

Tukang kibor vs kara-oke organ tunggal…

Beberapa hari lalu saya menghadiri undangan perkawinan anak seorang teman. Kebetulan diselenggarakan di rumah, bukan di gedung. Untung tidak hujan. Karena cuaca akhir-akhir ini amat kacau menurut saya. Semestinya bulan Juli sudah musim panas, tapi hujan deras masih mengguyur. Malah bikin banjir di beberapa daerah lagi. Kata BMG sih ada gejala La Nina. Tapi yang jelas hari itu tidak hujan. Mungkin karena yang punya hajat juga sudah mengontrak pawang hujan. Entahlah.

Ketika saya tiba di acara kawinan itu, dari luar saya dengar ada suara musik. Agaknya yang punya hajat tidak mengundang band, orkes atau organ tunggal untuk memeriahkan hajatannya. Mungkin dengan cd player danstereo sound system juga bisa menghibur undangan yang hadir. Itu yang ada di pikiran saya. Tapi ternyata saya salah.

Di sudut pekarangan rumah yang punya hajat, ada sebuah panggung kecil bertenda. Seorang biduan perempuan sedang menyanyi diiringi organ tunggal di situ. Di depan keyboard Yamaha bertipe PSR3000 yang digunakan si tukang kibor (player)  tergantung kain bertuliskan “OM Irama Ria”. Saya terkesima. Suara si penyanyi yang begitu bening amat mirip dengan suara penyanyi lagu aslinya. Dan yang membuat saya takjub saat itu adalah permainan si tukang kibor yang mengiringi persis sama dengan iringan yang pernah saya dengar di rekaman aslinya. Mulai introinterlude sampai ending mirip betul.Sound yang dibunyikan juga persis sama sekali dengan aslinya. Tanpa sadar saya bertepuk tangan ketika si penyanyi menyudahi lagunya. Orang-orang pada tersenyum melihat tingkah saya.

Tiba-tiba ada yang menegur saya. Rupanya seorang teman lama yang pernah satu grup band dengan saya juga hadir di hajatan itu. Kami kemudian asyik berdialog tentang masa lalu. Biasalah, bernostalgia. Saya kemudian mengungkapkan perasaan kagum saya terhadap si tukang kibor kepadanya. Saya bilang, dia itu pemain hebat karena bisa mengiringi persis seperti rekaman aslinya. Tanpa saya duga, teman saya tertawa terbahak-bahak. Sampai semua mata tertuju padanya. Saya jadi risih. Setelah tawanya reda, kemudian teman saya mulai berbicara.

Eh, kau tau itu yang main, si U!” katanya.

“U? U yang mana ya?” tanyaku.

“Itu yang dulu suka bantu kita angkat alat kalau mau main.” katanya lagi. “Masa kau lupa, itu yang suka minta rokok sama kamu…”

“U yang anaknya Daeng S itukah?” tanyaku lagi. “Masa dia itu…?”

“Eeeh, kan saya yang ajar dia main kibor. Cuma tidak bisa-bisa sampai sekarang!” kata teman saya itu.

“Tapi, tadi dia main bagus sekali, coba kau dengar itu, bagus to?” bantah saya.

“Hahahahaha…” dia tertawa lagi. Dan orang-orang kembali menoleh kepada kami. “Mau juga kau dibohongi si U. Lihat, gayanya asyik to, pencet sana pencet sini. Tapi itu, lihat, bagaimana bisa suara interlude saxophone itu bunyi kalau tangan kanannya lagi pegang rokok?” katanya lagi.

“Betul juga…” kataku. “Jadi yang kita dengar ini…”

Song, kawan. Song kara-oke alias minus one yang datanya ada di flashdisk si U itu. Tinggal di-loadtranspose nada dasar, di-play, bunyi, bergayalah dia seperti Purwa Caraka… Eh, kau tau, si U itu beruntung bisa beli kibor sama sound systemnya itu dari hasil kredit. Selama ini dia sewa pemain sama penyanyi. Tapi kalau tidak ada pemain, dia yang main dengan cara itu”, ceritanya lagi.

Jadi yang tadi saya beri tepuk tangan itu siapa?” tanya saya dalam hati. Kalau penyanyinya ya bolehlah. Tapi jelas bukan untuk si tukang kibor. Karena yang saya dengar tadi adalah bunyi hasil teknologi MIDI (Music Instrument Digital Interface) yang dimainkan pada kibor Yamaha PSR3000. Memang kibor jenis ini punya fasilitas kara-oke. Bahkan pada display lcd-nya bisa menampilkan teks atau lirik lagunya sekaligus. Apalagi untuk data storage Yamaha sudah menggunakan USB dan flashdisk yang bisa menyimpan data hingga ber-gigabyte. Tentu bisa menyimpan banyak data lagu dalam format MIDI. Bayangkan kalau satu lagu hanya butuh tempat sekitar 50 kilobyte, berapa koleksi lagu yang bisa dimasukkan si U dalam flashdisk-nya?

Memang teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia dalam segala aktivitasnya. Termasuk di dunia musik. Tapi jika teknologi akhirnya membuat manusia malas belajar, toh akhirnya akan membodohi manusia itu sendiri. Dengan hadirnya kibor Yamaha PSR-3000, menurut saya, akan menjadi cara baru bagi pemilik perangkat itu untuk mempersewakannya bukan dalam bentuk permainan jemari si tukang kibor, melainkan kara-oke organ tunggal dengan si tukang kibor sebagai operator.

Di sisi lain, lahan tukang kibor akan semakin sempit. Seorang tukang kibor yang harus bersaing dengan tukang kibor lainnya akan mencari cara bagaimana mendapatkan jobmain. Salah satunya dengan membanting harga jual. Akhirnya, tukang kibor semakin tidak dihargai oleh pasar.

Saya hanya berharap dengan kondisi ini yang  punya niat menanggap organ tunggal bisa lebih selektif dan menghargai tukang kibor sebagai sebuah profesi. Mudah-mudahan betul menanggap permainan organ tunggal, bukan kara-oke organ tunggal. Demikian juga pemilik organ tunggal kiranya bisa lebih bijaksana dengan tidak menipu penonton dengan berakting layaknya pemain organ tunggal.

About toekangmoesik

♥ Player solo keyboard di Losari Beach Hotel & Restaurant Makassar ♥ MD & Production Mgr di Radio SPFM Makassar ♥ Mantan Instruktur Gitar di Yayasan Pusat Pendidikan Musik (YPPM) Mataram-NTB ♥

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

jasa pembuatan blog, hosting blog murah, jasa pembuatan radio streaming, cara membuat radio streaming murah

MUSIC POLLING

Musichat

Kategori

Arsip

%d blogger menyukai ini: